Minta Umur yang Berkah

1 Des 2023  | 240x | Ditulis oleh : Admin
Minta Umur yang Berkah

Hari lahir atau dikenal hari ulang tahun banyak dirasa oleh setiap manusia merupakan hari yang spesial. bahkan sering kali kita sebagai mahlukNya kerap kali meminta di hari lahir atau ulang tahun untuk dipanjangkan umur. Namun jika kita sebagai mahlukNya alangkah baiknya kita meminta kepadaNya untuk diberkahi umur kita.

Peringatan hari kelahiran bukanlah termasuk amal ketaatan (perkara menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya) namun termasuk amal kebaikan (amal sholeh).

Sebuah amal kebaikan (amal sholeh) sangatlah tidak ada kaitannya dengan apa yang dicontohkan atau tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam maupun para Salafush Sholeh.

Namun dalam mempertingati hari lahir tersebut, sebaiknya kita sebagai umat dapat mengevaluasi apa-apa saja yang telah kita kerjakan sampai hari ini dan berbuat lebih baik untuk kemudian hari.

Peringatan hari kelahiran boleh diisi dengan selametan atau makan bersama yang tidak berlebih-lebihan, mengundang tetangga, teman atau rekan kerja untuk meneguhkan tali silaturrahim dan menebarkan salam diantara sesama saudara muslim dan berbagi cuka cita dengan mengajak makan anak-anak yatim.

Dalam kehidupan kita sehari-hari bahkan kita dimanja dengan nikmat umur. Akan tetapi alangkah indah dan baiknya kita lebih baik meminta umur yang berkah, dibanding meminta umur panjang.

Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini telah ditetapkan Allah di zaman azali. Tidak ada siapa pun yang bisa mengubah takdir dan ketetapan Allah SWT. Apa yang Ia kehendaki pasti terjadi.

Allah Ta’ala berfirman dalam (QS. An Nahl/16:Ayat 71) :

“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama merasakan rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah”. 

Umur manusia juga merupakan salah satu hal yang ditetapkan-Nya. Ada manusia yang meninggal dalam kandungan, ada yang meninggal beberapa hari setelah dilahirkan, ada yang meninggal ketika balita, ada yang ketika dewasa, dan ada yang sudah tua. Segala rahasia ada di tangan-Nya dan Allah tetaplah Tuhan yang Maha Adil. Segala yang terjadi tidak mengurangi kesempurnaan kekuasaan, dan keperkasaan kerajaan-Nya.

Umur panjang atau pendek sama saja, karena jika manusia menerimanya lalu memanfaatkan umurnya untuk kebaikan dan ibadah maka akan berkah hidupnya meskipun umurnya pendek. Namun jika manusia malah menggunakan umurnya untuk hal-hal yang tidak baik maka umur yang panjang tidak akan terasa panjang, karena keberkahan umurnya telah dicabut.

Oleh karena itu hendaknya kita tidak meminta umur yang panjang atau umur yang pendek, tetapi hendaknya kita meminta umur yang berkah kepada Allah. Karena umur yang berkah itulah yang akan membuat umur kita benar-benar kekal sampai tiada batasnya, itulah umur para penghuni ahli surga.

Firman Allah dalam (QS Yassin/36: Ayat 68) :

“Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya)[16]. Maka mengapa mereka tidak mengerti” 

Rasulullah saw bersabda:

Sebaik baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik pula perbuatannya dan seburuk buruk manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk pula perbuatannya.

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian berangan-angan mengharapkan datangnya kematian. Karena, kalaulah dia orang baik, siapa tahu ia bisa menambah kebaikannya. Dan kalaulah dia adalah orang jahat, siapa tahu ia bisa meminta penangguhan (untuk bertaubat).” (HR. Bukhari)

Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasûlullâh, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”. [HR. Ahmad; Tirmidzi; dan al-Hâkim. Dishahihkan oleh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, 3/313, no. 3363, Maktabul Ma’arif, cet. 1, th 1421 H / 2000 M]

#Tag
Artikel Terkait
Mungkin Kamu Juga Suka
RajaKomen
Scroll Top