Tips Menyiapkan Menu Bernutrisi agar Gizi Anak Tercukupi

by Team, 19 Apr 2022
Stunting alias kerdil karena kondisi kurang gizi kronis menjadi alarm kuat bahwa anak-anak mengalami masalah dalam pemenuhan gizinya. Bukan hanya anak-anak di pedalaman yang mungkin jauh aksesnya dari pendidikan kesehatan, bahkan anak-anak di perkotaan pun bisa mengalami kekurangan gizi.

Penyebabnya tidak jauh dari semakin banyaknya makanan instan yang dipilih untuk dikonsumsi anak-anak, dan bahkan bayi. Makanan instan itu bukan hanya tidak memenuhi kecukupan gizi anak-anak, tapi juga cenderung kandungan gula dan garamnya terlalu banyak.

Lalu, dari mana keluarga mulai membangun gizi? Dari sayur? Buah? Bagaimana dengan anak-anak yang lebih suka keripik, roti-rotian, atau kudapan gurih yang umumnya mengandung MSG berlimpah? Bahkan, sumber protein pun tidak lepas dari yang instan. Ayam goreng tepung krispi menjadi favorit dan menolak sumber protein lain yang bergizi seperti ikan ataupun sumber protein nabati.

Masa anak-anak adalah masa sibuk bagi fisik anak untuk tumbuh dan berkembang. Selain makin berat dan makin tinggi, mereka juga mulai mengenal dan mempelajari kepandaian bicara, jalan, berlari, berpikir, emosi, dan sebagainya. Mengenal dan mempelajari makanan bagi mereka juga merupakan usaha tersendiri.

Makanan yang sehat adalah kebutuhan dasar tubuh manusia. Sumber bahan makanan yang segar memiliki nilai gizi yang lebih tinggi. Itu harus menjadi prinsip bagi setiap orang tua dan pedoman untuk menyediakan sajian keluarga.

Untuk membiasakan pola makan yang sehat kepada anak-anak, dianjurkan agar setiap keluarga hanya menyediakan jenis makanan yang sehat di rumahnya masing-masing. Orangtua juga perlu menetapkan aturan pola makan sesuai dengan irama tubuh bekerja.

Kebiasaan makan makanan yang sehat juga dibentuk dengan kebiasaan orangtua dalam mengatur pola hidup dan pola makan. Anak akan meneladani pola yang sesuai dengan apa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-harinya.

Hanya menyediakan makanan sehat itu artinya orangtua berusaha menyajikan makanan yang lengkap gizinya. Semua sumber gizi itu dapat diperoleh dari sumber makanan alami yang diproduksi alam raya. Semakin sedikit campuran bahan kimia yang dimasukkan ke dalam olahan makanan yang dikonsumsi, semakin sehatlah makanan tersebut. Sumber makanan yang semakin segar juga memiliki nilai gizi yang lebih tinggi.

Jika anak-anak tidak terbiasa mengonsumsi bahan makanan alami, terutama sayuran, diperlukan ketegasan dan teladan dari orangtua yang dimulai dengan membuat kesepakatan mengenai pola makan. Pada awalnya, bisa jadi orangtua perlu lebih tegas dan bahkan "tega" dalam menerapkan aturan.

Di sisi lain, ada kemungkinan anak akan berontak, marah, dan merengek. Untuk anak-anak yang lebih mudah diajak tukar pikiran, berilah ia pengertian pola hidup sehat. Jika anak sulit diajak bersepakat, buatlah aturan yang jelas dan disepakati bersama. Tentu saja, orangtua pun harus menjalankan aturan tersebut karena anak meneladani orangtua.

Lalu, bila anak merengek dan bahkan mogok makan, orangtua disarankan untuk tetap tenang. Tanamkan prinsip makan sebagai kebutuhan dasar bahwa tubuh memerlukan asupan gizi yang seimbang untuk menunjang pertumbuhan fisik dan perkembangan kemampuan yang optimal.

Bersabar dengan proses tentunya akan berbuah manis, yaitu anak-anak terbiasa dengan pola makan sehat sehingga masa pertumbuhannya pun akan dicapai dengan optimal. Anak bukan hanya sehat, tapi mengalami perkembangan fisik, mental, dan kecerdasan yang mampu mengeluarkan seluruh potensi di dalam dirinya.

Oleh karena itulah orangtua harus bersabar dengan waktu yang cukup dan konsisten untuk mengenalkan makanan lengkap gizi ke anak-anak. Apalagi untuk sayur, buah, dan sumber protein tertentu yang sering menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan kesabaran dalam membimbing anak-anak.

Usaha orangtua tersebut untuk menjamin bahwa sang anak memiliki gizi yang cukup. Tanda-tanda kecukupan gizi itu adalah tinggi badan dan berat badan yang proporsional sesuai standar. Pada anak-anak, standar itu sesuai dengan grafik pertumbuhan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh WHO. Orangtua dianjurkan agar mempelajari dan mempunyai grafik pertumbuhan tersebut. Orangtua perlu mencatat tinggi badan dan berat badan anaknya setiap bulan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

 
Copyright © 2024 SarahZaharia.com
All rights reserved